Cerpen Remaja Terbaru "Take My Heart ~ 12"

Jangan menuntut kalau nggak mau di tuntut oke!!!. (???)

Hufh, Penulis manusia so bisa buntu ide juga. Sekali kali kek kalian ngasi saran apa gitu di kotak komentar di bawah soal ide lanjutannya #ngarep.

Abis bingung juga, Ni cerpen mau di kemanain ya?. Kok mendadak blank. Hadeh... Kacau...

Over all, Happy reading aja deh.

-} Cerpen Remaja Take My Heart part 11


Sepulang kuliah Vio sengaja mampir ke taman. Seperti biasa menatap langit. Mendadak merasa seperti orang bodoh. Kenapa ia selalu merasa kalau hidup selalu mempermainkan nya?.

Tak tau berapa lama ia duduk merenung, bahkan tanpa sadar matanya sudah terpejam lama. Menikmati semilirnya angin dengan headset yang bertenger di terlinganya. Dengan mata tertutup mustahil ia bisa menikmati langit sore. Namun entah darimana keyakinan itu muncul, rasa nyaman justru malah ia rasakan.

"Tumben loe malah tiduran. Langit cerah lho. Bukannya biasanya loe lebih suka menghabiskan waktu buat menatap awan ya?".

Mata Vio refleks terbuka. Bukan saja karena suara yang ia tangkap, tapi juga karena ia merasa kalau headset di telinganya telah terlepas. Sebuah senyum bertenger di bibirnya saat mendapati senyuman Fandi yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya.

"Ngapain loe disini?" tanya Vio sambil membenarkan letak duduknya yang menyandar di bawah pohon. Mengabaikan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Fandi.

Bukannya menjawab Fandi justru hanya angkat bahu. Sementara tangannya tampak memilin milin daun ilalang tak berdosa yang telah ia cabut sembarangan.

"Lagi bingung ni gue".

"Oh ya?. Kenapa?" Tanya Vio lagi.

Sejenak Fandi menunduk. Sambil tersenyum malu ia berujar "Pacar gue bentar lagi mau ulang tahun. Gue bingung mau ngasi dia kado apaan. Loe bisa bantuin gue nggak. Secara loe kan juga cewek. Harusnya loe lebih ngerti donk masalah beginian".

"Ha ha ha. Ada ada aja loe. Selera tiap orang kan beda" kilah Vio.

"Tapi paling nggak loe punya gambarannya donk?".

"Em... apa ya?. Gue juga bingung si" Kata Vio sambil pasang tampang mikir. Sementara Fandi terlihat melirik jam yang melingkar di tangannya.

"Eh dari pada loe bengong sambil tiduran gak jelas di sini gimana kalau loe temenin gue aja. Ke mall aja kita sekarang. Ntar disana kita baru mikir mau beli apa. Yang jelas loe bantuin gue. Gimana?".

Vio tidak langsung menjawab. Matanya ikut ikutan melirik jam yang melingkar di tangan, masih pukul setengah empat sore. Sepertinya tidak ada salahnya jika ia mengikuti tawaran Fandi.

"Boleh, ayo kita pergi".

"Gitu donk" Senyum Fandi langsung mengembang.

Dengan cepat ia bangkit berdiri di ikuti Vio yang tampak sedang merapikan anak rambutnya yang tampak acak acakan tertiup angin.

"Kita mau kemana dulu ni?" tanya Vio setelah keduanya tiba di Mega Mall, salah satu mall yang ada di kota Batam #Uhuk uhuk uhuk,Penulis keselek.

"Kemana ya?" Bukannya menjawab Fandi justru malah balik bertanya. Tangannya terangkat mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan yang ia lakukan saat sedang berfikir.

"Boneka aja gimana?"tanya Vio menawarkan.

"Nggak deh. Terlalu kekanak - kanakan. Lagi pula dia nggak suka boneka" Tolak Fandi setelah berfikir untuk beberapa saat.

"E.... Kalau syal aja gimana?" tanya Vio lagi.

Dan belum sempat Fandi menjawab untuk setuju ataupun tidak tangan Vio sudah terlebih dahulu meraih tangannya. Membawa keduanya masuk kesalah satu butik yang ada disana. Beberapa saat kemudian keduanya terhanyut dalam suasana. Sibuk memilih sana sini. Berlalu keluar masuk dari satu butik ke butik yang lain. Beberapa kali Vio menawarkan pilihannya Kepala Fandi selalu mengeleng. Merasa tidak pas.

Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu berkeliaran diMall itu mereka berhenti di Aw. Sekedar menikmati es kriem rasa coklat faforit Vio.

"Jadi dia suka baca buku. Kenapa loe nggak bilang dari tadi?" Tanya Vio membuka pembicaraan sambil melirik kantong plastik di atas meja.

Sebuah novel karya Ilana tan. Novel Sunshinee becomes you menjadi pilihan terakhir dari Fandi.

"Iya, Tadi itu gue lupa".

"Tapi novel Sunshinee becomes you ini kan udah lumayan lama. Kalau memang dia suka baca buku, masa si dia belum baca?" Vio menambahkan.

"Kalau soal itu gue kurang tau. Ha ha ha" balas Fandi sambil tertawa. Membuat Vio hanya mampu mengeleng perlahan.

Dan mata Vio langsung terpaku saat matanya tak sengaja menangkap sepasang mata yang juga sedang menatapnya. Entah ekspersi apa yang ada disana yang jelas sukses membuat Vio merasa tak nyaman. Apalagi tatapan itu jelas terlihat mengintimidasinya.

"Loe kenapa?" tanya Fandi saat melihat ekspresi di wajah Vio yang terpaku.

"Nggak papa kok" Balas Vio sambil mengeleng.

"Udah makan aja" Tambah Vio mencegah Fandi yang bersiap untuk menoleh ke belakang. Sementara Vio masih berusaha melirik dengan ekor matanya kearah meja seberang. Berpura - pura tidak ada kejadian apapun.

Rencana setelah makan mereka akan langsung pulang, namun sayang rencana hanya tinggal rencana saat tanpa sengaja mata Fandi menemukan judul film yang ada di dinding MM. Film Habibie dan Ainun. Saat menoleh kearah Vio, Gadis itu juga tampak angkat bahu. Tanpa kata di tariknya tangan Vio, Mengantri sejenak untuk membeli tiket sebelum kemudian bertahan lebih dari dua jam di dalam gedung bersama puluhan Penonton lainnya.


"Huom".

Tangan Vio terangkat menutup mulutnya. Ini untuk kesekian kalinya ia menguap setelah satu jam yang lalu dengan berat hati ia bangkit dari atas kasur untuk melakukan rutinitas harian. Kuliah. Pagi ini, kedua matanya benar - benar terasa lengket Gara - gara tidur kurang dari empat jam. Itu semua gara - gara Fandi, rutuknya dalam hati.

Pasalnya, acara mencari hadiah kemaren ternyata menjadi acara berantai yang mampu molor kemana - mana. Setelah menonton, mereka makan malam di lanjutkan dengan nongkrong di depan kostan sambil menatap bintang. Bercerita ngalor ngidul entah kemana. Sadar - sadar sudah lewat tengah malam. Alhasil, Vio merasa ngantuk sementara hari ini ada jam kuliah masuk pagi.

Begitu mengunci rumahnya Vio segera bersiap melangkah. Namun belum juga sampe lima langkah ala dangdut (???), Langkah Vio sudah lebih dahulu terhenti. Walau mengantuk ia yakin matanya tidak salah lihat. Wajah Ivan dengan stelan kerennya yang nangkring diatas motor telah menyambutnya.

Untuk sejenak keduanya terdiam dengan mata yang masih saling memandang. Setelah terlebih dahulu menghela nafas Vio kembali melangkah melewati Ivan. Mengabaikan keberadaan makluk satu itu yang kini sedang melangkah menghampirinya. Ralat, Menghadang jalannya.

"Loe mau apa lagi?".

"Naik" Kata Ivan singkat namun jelas memerintah.

"Heh" Vio tampak mencibir, Tanpa kata ia kembali melangkah.

Diluar dugaan tangan Ivan terulur, mencekal erat tangannya. Membuat Vio mau tak ,mau mengurungkan niatnya. Berbalik menatap lurus kearah Ivan. Seolah minta penjelasan. Tapi yang di tatap masih membatu. Hanya menoleh sekilas kearah motornya. Memberi isarat Vio untuk segera naik kesana.

"Emang nya loe pikir loe itu siapa?. Yang bisa datang ketika loe suka, Dan bisa pergi ketika loe mau?" tanya Vio yang membuat Ivan mengerutkan kening bingung.

"Maksut loe?".

"Kemaren kenapa loe nggak jemput gue?".

"Eh?" Ivan tampak berfikir. Beberapa saat kemudian sebuah senyuman tergambar di bibirnya.

"Loe nungguin gue?" Tanya IVan langsung.

"Please deh ya. Nggak usah Ge-Er. Bikin enek aja tau nggak".

“Ha ha ha, Kalau emang enek kenapa loe malah nanyain gue?”.

“Itu karena gue berharap loe melakukan hal yang sama setiap hari. Nggak usah muncul – muncul lagi di hadapan gue. Pake acara jemput segala lagi”.

“O, jadi karena sekarang loe udah punya penganti herry loe nggak mau lagi berurusan sama gue?” Tanya Ivan sinis.

“Maksut loe?” Kali ini Vio menoleh. Menatap lurus kearah Ivan. Seolah minta penjelasan atas maksut dari ucapannya barusan.

“Cowok yang gue lihat kemaren jalan bareng sama loe di mall. Itu pacar baru loe?”.

“Ha ha ha.Ini pertanyaan atau pernyataan?” Tanya Vio di sela tawanya.

Tawa Vio langsung lenyap saat mendapati tiada reaksi dari Ivan. Justru pria itu malah menatap tajam kearahnya.

“Ehem, Kenapa?. Loe cemburu?” Tanya Vio berusah bersikap biasa saja.

“Iya”.

“Eh?” Kening Vio terlihat sedikit berkerut bingung. Di tatapnya wajah Ivan. Mencoba mencari tau apa kah sosok itu sedang bercanda. Tapi kenapa tampangnya serius gitu ya?.

“Gue nggak bercanda. Gue emang merasa nggak suka waktu liat loe jalan bareng sama cowok lain. Pake acara ketawa bareng lagi, sementara bareng sama gue loe ketus gitu”.

“Eits tunggu dulu. Kenapa sekarang kesannya loe ngehakimin gue seolah – oleh gue itu seorang pacar yang ketahuan selinguh”.

“Loe kan emang ketahuan selingkuh”.

“Selingkuh apanya?. Emang kita pernah pacaran?” Tanya Vio melongo.

Ivan terdiam. Dalam hati membenarkan. Ah, mereka kan memang tidak sedang berpacaran.

“Ah pokoknya gue nggak suka loe deket – deket sama cowok lain. Titik”.

“Dan jangan coba coba membantah!!”.

Mulut Vio yang sudah terbuka untuk bersuara langsung terdiam tanpa kata. Telunjuk yang terarah lurus tepat di wajahnya di tambah tatapan tajam Ivan kearah matanya langsung terasa seperti hipnotis. Tak tau apakan ia setuju atau memang ia di hipnotis beneran, yang jelas kepala Vio tampak mengangguk. Membuat Ivan tersenyum samar sebelum kemudian mengiring gadis itu menghampiri motornya. Melaju bersama menuju ke kampus.

Akhirnya setelah di terror mulu baik melalu dinding FB, Inbox bahkan BB and SMS juga Penulis mau melanjutkan cerpen Take My Heart yang mendadak kehilangan ide. Huwahahahahhaha…

Derita Galau akut kayak gini deh. Blank. Tapi yah namanya juga penulis amatiran, so wajar donk kalau kehabisan ide. Iya nggak si?. Iya Donk!!!. # maksa mode on…

Oke deh, Next to Cerpen Take My Heart part selanjutnya ya….


Title : Cerpen Remaja Terbaru "Take My Heart ~ 12"
Description : Jangan menuntut kalau nggak mau di tuntut oke! !!. (???) Hufh, Penulis manusia so bisa buntu ide j...

0 Response to "Cerpen Remaja Terbaru "Take My Heart ~ 12""

Post a Comment

Belajar lah untuk menghargai sesuatu mulai dari hal yang paling sederhana...