Cerpen Tentang Cinta | Dalam Diam Mencintaimu

Cerpen Tentang Cinta
Dalam Diam Mencintaimu Part 2
For All, Cerpen Dalam Diam mencintaimu bagian kedua udah muncul nie ya. Oh ya, sebelum langsung baca cerpen nya Star Night mo kasi info (???) dikit. Mungkin banyak yang belum tau bahwa  gaya Penulisan cerpen yang ada di Star Night , ehem, bukan Cuma yang ada di blog Star Night si, tapi cerpen yang di buat oleh “Merya” selaku admin di sini, biasanya antara Satu cerpen dengan cerpen yang lainnya masih saling berhubungan <Walau nggak semua>.
Alasan membuat beginian, Selain karena  suka sama gaya penulisan pada “for season tale’ nya Ilana Tan yang antara satu novel dengan novel lainnya berhubungan, juga karena ingin dijadikan bukti kalau cerpen di sini memang karya pribadi yang berciri khas tersendiri. No copas dari karya siapa pun. So, bagi yang mengcopas nya, Please kasi kredit yang jelas ya.

Satu lagi, karena cerpen “Dalam Diam Mencintaimu”  sama dengan cerpen “Kala cinta Menyapa” yang kedua – duanya adalah cerpen requesan. Jadi Star Night sengaja gabungin aja sekalian. Tapi Cerpen "Ketika cinta harus memilih" kayaknya juga di selipin deh. Semoga saja tidak bingung. Dan bila ada yang bingung itu Resiko. Star Night lagi ‘blank, belom punya ide buat ngarang yang laen. Ha ha ha.
Akhirnya, Happy Reading……
 Setelah hampir separuh jalan menuju kampus Doni menghentikan motornya. Lagi – lagi ia menhembuskan nafas berat. Setelah berpikir untuk sejenak, ia kembali membalikan arah motornya. Tujuannya pasti. Halte bus yang tak jauh dari rumah. Walau kesel namun ia sadar, seumur – umur ia tidak pernah membiarkan gadis itu pergi kekampus sendirian.
Sampai di halte Doni merasa makin kesel sekaligus kecewa karena ternyata bis sudah  berlalu. Memang belum jauh si, tapi mustahil ia mengejarnya hanya untuk meminta Irma agar pergi bersamanya. Memang alasan apa yang bisa ia pakai jika gadis itu menanyakannya. Akhirnya ia kembali melajukan motor kearah kampus, sengaja mengebut untuk mendahului bus itu.  Perduli amat dengan Nandini, toh kemaren juga hanya basa – basi doank. Tadi juga ia hanya berniat untuk mengetes reaksi Irma saja.
Sesampainya di kampus Doni Segera melangkah kearah gerbang sambil terus berfikir. Kira – kira nanti ia harus menjawab apa jika Irma bertanya tentang Nandini. Dan belum sempat ia menemukan jawabannya , bus yang ditunggu muncul dihadapannya.
Sampai Bus kembali berjalan Doni masih tak menemukan sosok Irma diantara para penumpangnya. Tiba – tiba ia merasakan firasat buruk. Dengan cepat di keluarkannya hape dari saku. Menekan tombol nomor 1, Panggilan cepat yang sengaja ia seting untuk Irma.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau.....”
Doni segera menekan tombol merah saat mendengar suara operator sebagai balasannya. Pikirannya makin kusut. Ya tuhan, kemana perginya anak itu?.

Cerpen Tentang Cinta | Dala Diam Mencintaimu

“Kenapa si gue harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”.
“Lagi?. Maksut loe?” tanya Irma saat mendengar nada mengeluh dari mulut Fadly. Sepupu nya yang sengaja ia ‘paksa’ untuk menghibur hati yang galau.
Fady tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangannya justru dengan santai memainkan ‘kembang sepatu’ yang ia petik sembarangan dari pohon yang di tanam di taman kota. Tempat yang kini di jadikan ajang curhat oleh Irma yang nekat bolos Kuliah.
“Kemaren temen gue waktu masih SMA juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Rangga, Udah jelas – jelas dia cinta sama cinta. Pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi galau. Untung aja kisahnya happy ending. La sekarang loe juga sama. Udah jelas – jelas loe katanya suka sama sahabat sekaligus tetangga loe, eh malah di ‘jodohin’ sama temen loe sendiri. Kalau memang niat bunuh diri kenapa gak loncat dari tebing aja si?”.
“sialan loe” Gerut Irma kesel. “Yang bilang gue pengen bunuh diri siapa?. Lagian nie ya, masa ia harus gue yang ngomong duluan kalau gue suka. Mending kalau dia juga suka ma gue, la kalau enggak?. yang ada nie ya, bukannya malah happy ending justru hubungan kita malah jadi berantakan. Hu. Ogah deh”.
“Terus sekarang maunya apa?” tanya Fadly lagi.
“Tau... hibur gue donk. Lagi galau nie. Kira – kira obat galau apa ya?” tanya Irma lagi.
“Baygon cair”. #Ini Beneran Saran dari oma kan?. -,-''
“Pletak”
Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Fadly atas balasan jawaban ngawurnya.
“Iya, kalau minum baygon galau memang menghilang, Tapi nyawa juga melayang”.
“Ha ha ha, itu pinter....” Fady tergelak. “Lagian loe pake galau segala. Kayak manusia aja” sambung Fadly terdengar mengerutu.
“Gue emang manusia” Geram Irma meralat.
 Emosi bener deh ngadepin nie anak satu. Tiba – tiba ia jadi merasa menyesal minta di temani dia. Tau gini mendingan ia minta temenin Rani aja kali ya. Walau tu anak polosnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.
“Kalau loe emang manusia berlakulah layaknya manusia”.
“ Maksudnya?”.
“Dengar Irma. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, Itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah apa lagi terburu – buru menentukan akhirnya yang jelas – jelas belum kita ketahui” terang Fadly serius.
Irma terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sepupunya barusan.
“Tumben loe pinter”.
“Pletak”
Membalas itu lebih baik dari pada tidak ada balasannya” Kata Fadly cepat sebelum Irma sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepalanya.
“Ya.... sekali-kali ngalah sama cewek kenapa si. Astaga, loe kan cowok”.
“Gue emang cowok. Yang bilang gue banci kan Cuma elo. So, kalo sama loe gue belaga jadi banci aja deh” Balas Fadly dengan santainya. Membuat Irma hanya mampu melongo tanpa bersuara. Ini orang beneran ajaib... #huwa.... Waktu ngetik nie cerita jadi inget sama si’Jenny. Ayolah friend, Life must go on. Udahan donk galaunya, Gak ada loe gak rame....!!!. hiks hiks hiks.

Cerpen Tentang Cinta | Dala Diam Mencintaimu

Setelah Fadly pergi barulah Irma melangkah masuk. Dengan santai ia melangkah masuk kedalam rumah. Sedikit banyak pikirannya sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya  fadly memang bisa menghibur . Namun belum juga kakinya menginjakan beranda rumah sebuah teriakan menghentikan langkahnya.
“Doni?. Kenapa?” tanya Irma heran saat mendapati Doni yang berdiri di depan gerbang. Tangannya segera mengisaratkan agar mendekat.
“Loe kemana aja?. Kenapa hari ini loe bolos?. Terus tadi yang nganterin loe siapa?” pertanyaan memberondong meluncur dari mulut Doni.
Untuk sejenak Irma terdiam. Kejadian tadi pagi kembali membayang di ingatannya. Apalagi saat ia tau kalau Doni dan nandini... entah lah, tiba – tiba moodnya kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas ia berujar singkat.
“Bukan urusan loe kan”.
Selesai berkata Irma langsung berniat melangkah masuk, tapi tangan Doni sudah terlebih dahulu mencekalnya. Irma berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya tenagannya tidak sampai setengahnya, akhirnya iram lebih memutuskan untuk mengalah.
“Loe kenapa si?” tanya Irma dengan nada lelah.
“Justru elo yang kenapa?” Balas Doni balik.
“Oke, kayaknya gue kecapean setelah seharian ini abis jalan – jalan. Jadi sekarang gue pengen istirahat dulu. Jadi gue harap loe bisa ngerti kan”.
Mendengar ucapan dingin Irma barusan gengaman doni langsung terlepas. Tanpa kata Irma segera melangkah masuk.
Setelah terdiam untuk sejenak Doni langsung berbalik ke rumahnya. Tiba – tiba saja ia merasa sangat ingin marah. Setelah seharian penuh ia mencemaskan gadis itu dengan pikiran – pikiran konyolnya ternyata dia justru saat itu sedang bersenang – senang. Astaga. Ternyata ia benar – benar bodoh.
Sementara Irma sendiri menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menyesal dalam hati atas apa yang sudah ia lakukan barusan. Kenapa ia bisa berkata seperti itu. Setelah berpikir untuk sejenak ia segera melangkah keluar. Ia harus meminta maaf pada Doni. Ia benar – benar tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk. Namun sayang, saat ia keluar ia sudah tidak mendapati sosok sahabatnya di situ. Akhirnya dengan lemas ia kembali melangkah masuk kerumah.

Cerpen Tentang Cinta | Dala Diam Mencintaimu

Sekali – kali Irma melirik jam yang melingkar di tangannya. Motor Doni masih terparkir di halaman. Itu artinya tu anak belom pergi. Tapi masalahnya, hari ini dia menjemput nandini lagi nggak ya?. Semoga saja tidak.
Saat ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri pintu gerbang depan rumahnya terbuka. Tanpaklah Doni dengan motornya yang melangkah keluar dan berhenti tepat di hadapannya.
“Doni, hari ini kita pergi bareng nggak?. Atau loe mau menjemput....”.
“Gue nggak bareng sama siapa – siapa. Kalau loe memang mau bareng sama gue, ya sudah ayo naik” Potong doni cepat.
Walau merasa serba salah saat mendapati nada bicara doni yang terasa aneh dalam pendengarannya namun tak urung Irma manut. Segera duduk di belakang Doni sebelum kemudian motor itu kembali melaju.
“Ehem, Don loe besok ada acara nggak?” tanya Irma mencoba membuka pembicaraan.
“Belum tau” balas Doni.
Irma kembali terdiam. Mulutnya terbuka untuk berkata namun kembali tertutup kembali. Tiba – tiba ia merasa ragu.
“Kenapa?” tanya Doni lagi.
“O.... Nggak kok. Gue Cuma nanya aja” balas Irma kemudian.
Doni juga diam. Sesekali ia melirik kearah Irma dari kaca spion. Dalam diam ia juga merasa bersalah. Ada apa dengan mereka , kenapa jadi terasa seperti orang asing begini?.
“Oh ya, entar siang loe pulang bareng gue nggak?” tanya Doni begitu mereka sampai di halaman Kampus.
“Entar siang, kayaknya loe bisa pulang duluan deh. Soalnya gue ada urusan dikit sama si Rani”.
“Rani?” tanya Doni dengan kening berkerut.
“Iya, temen gue. Yang pake kacamata itu. Masa loe nggak tau”.
“O.... Dia, gue tau kok. Ya udah kalau gitu. Gue duluan” Pamit Doni sambil melangkah ke kelasnya.
“E... Don”
Doni segera berbalik. Menatap heran kearah Irma.
“Besok loe masuk berapa mata kuliah?” tanya Irma lagi.
“Tiga, kenapa?”.
“O.... Nggak papa kok. Cuma nanya aja. Ya sudah, loe duluan deh”.
Doni Angkat bahu. Walau sedikit heran tapi ia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut. Moodnya belum seratus persen balik kayaknya. Sementara Irma sendiri juga segera berbalik menunju kekelasnya. Saat melihat segerombolan (???) teman – temannya yang sedang mengosip ria, tiba – tiba saja sebuah ide jahil terlintas di kepalanya. Sembuah senyum samar terukir di bibirnya saat mengingat kejadian di ruang kesehatan kemaren.   Kayaknya ini saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dengan mantap di hampirinya Anak – anak itu. Sepuluh menit kemudian barulah ia benar – benar berlalu pergi menunju kekelas dengan senyum puas. Erwin, MAMPUS LOE!!!.
Bersambung
Title : Cerpen Tentang Cinta | Dalam Diam Mencintaimu
Description : Cerpen Tentang Cinta Dalam Diam Mencintaimu Part 2 For All, Cerpen Dalam Diam mencintaimu bagian ke...